Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/07/cara-membuat-judul-blog-bergerak.html#ixzz2B8IAMJmX

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 25 Maret 2013

DIMANA SEPATUKU, SIAL MANUSIA PENCURI. (MEMBANGGUNG KESADARAN) (Kaipaea abalo go, manajigipa higindemenege dea)


Mitalah maka akan diberi, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu tidak mungkin pelit jika ada kelebihan pasti akan diberikan kepadamu. Jangan mengambil dari kekurangan.

Sabtu diJogja, gamping terlihat sepi, tak ada yang di curigai akan mengalami dugaan terinspirasi. Di kamarku dihiasi foto-foto barenggan di makama konsitusi, lampu sorot belajarku menyalah menerangi ruanganku, buku-buku berhampuran, pakayanku berserakah seperti kapal pecah, pintu kamarku terbuka, minuman dan rokok kesukaanku menungu aku di atas meja belajar mendampingi laptop, sepatu baruku yang selalu menemani aku ke kampus tersenyum di samping motor tuaku tanpa sepata kata karena benda mati.

Aku pun terdiam melihat semuanya itu sebagai teman dalam sandiwara hidup. Aku sedikit melangkah kaki melihat tulisan bodohku yang tertempel di dinding ruanganku dengan motto “Hidup adalah Perjuangan Mencari Aku”. Sambil aku menikmati motto itu yang dijadikan puisi sedang aku baca di sudut ruangan itu!, tiba-tiba HPku berdring. Aku pun meninggalkan membaca puisi untuk menjawab panggilan. Aku pun melangkakan kaki mencari HPku berdering ingin mengetahui siapa sebenarnya yang menelepon Aku jam begini. Penyesalan membarengi keingintahun terganjar dan terinspirasi di benak aku , ternyata hp yang tadi bordering tidak dapat karena kamarku berserahkan. Dalam berserahkan itu terselib dalam buku-buku yang aku hampur dalam ruangan tidak telihat lagi sial Hp bodok dalam hati.

Aku kembali membaca Puisiku demi memaknainya tetapi hp bordering kembali, aku berusaha meninggalkan membaca dan mencari hp untuk merespon panggilan kembali. Ternyata hpku dapat di dalam noken angrek yang aku gantung di sudut ruangan. Aku pun mengambil secepat mungkin jangan sampai terlewat kebetulan pulsaku juga habis untuk telepon balik dan ternyata nomor hp yang baru. Pirasatku muncul, ini berkat atau bukan. Aku pun penset hpku tanda bahwa aku sedang menerima tlp dengan berkata: iya saya ada, selamat siang dengan siapa? Sahutnya selamat siang pak ini dengan dosen mata kulia pengantar politik. Aku pun gugup karena aku tidak kulia tadi pagi, benakku menyeret untuk mematikannya tetapi aku pun menjawabnya bagimana pak. Begini pak kris besok masuk kulia bahwa dengan No rekning dengan persyaratan beasiswa. Oh terima kasih pak saya akan membawanya besok pagi. Dan aku mengakhiri telepon sebab kebetulan tadi saya tidak kulia.

Jarum jam panjang menunjuk ke arah pukul enam dan jarum jam pendek menunjuk pukul tiga artinya sudah pukul 03.30 wib. Oh Tuhan sudah jam, aku hanya di kamarku saja sejak pagi hingga jam demikian sekarang aku harus kunjungi Gramedia dan Kansius. Aku memegang handuk yang aku gantung di pingir jendela dan memegang gayung yang aku simpang di sudut pintu keluar masuk ruanganku menuju kamar mandi untuk mandi. Aku melangkah ke kamar mandi dalam hitungan dua menit samapi tiga menit.

Setelah mandi aku pun melangkah ke kamarku memakai pakayan seadanya. Suyukur tidak suka menyeleksi pakayan sehingga pakayaku hanya empat pasang saja jadi aku kenakan dalam waktu detik. Setelah memakainya aku mengambil kunci motorku di tempat gantungan kunci di pintu dalam ruangan dengan helem. Aku melangkah kaki keluar pintu tempat aku menangkalkan sepatu dan memarkir motor dan langsung menyalakan motor tuaku sogun dengan DS AB 4034 HZ Menuju tokoh buku gramedia dan kanisius.

Dalam perjalanan sambil mengendarai doaku yang biasa-biasa terus rangkaikan Tuhan semoga selamat sampai tujuan. Sampil melintasi di jalan raya aku melihat manusia-manusia berbaju besi, berdasi emas bertopi baja menari-nari di atas diatas penderitan sesama. Aku pun merenung sesambil meririk kiri dan kanan sambil mengendari motor tuaku. Hidup ini menyedihkan dan menyenangkan sampai manusia tidak ada lagi melihat sisi baikkah sehingga terjadi demikian dalam hati sepintas lalu dalam perjalanan menuju tempat tujuanku

Di geramedia kota baru jogja, aku masuk melihat manusia –manusia menyibukkan dirinya sendiri. Tidak ada kata sahut menyahut namanya Tokoh Buku. Aku terseret beberapa buku terutama buku yang berjudur the best Chinese leadership wisdoms, halaman pertama aku dapat dan baca mencari keteladanan dari masa silam, dari kisah-kisah kepemimpinan china klasik, serta aplikasinya dalam dunia modern. Karena menari tanpa berpikir panjang aku membeli bersamannya dengan sepuluh buku lainnya dengan judul yang berbeda-beda.

Aku memegang dan melangkah kaki keluar pada pukul 05.00 wib menuju kansius dengan berjarak 2 kilo meter. Dalam perjalanan aku tidak berpikir lagi sesuatu yang akan terjadi di kontrakan aku terus melintasi jalan raya menuju kansius.
Di kansius buku yang aku cari aku dapat dengan berjudur filsafat ilmu,hermeneutika,pemikir politik barat, filsafat kebudayan dan empat buku lainnya yang judurnya saya lupa yang penting aku beli karena benakku meyeretku harus beli. Sykur bagimu Tuhan atas benak yang menyeretku untuk membelinya. Akhirnya 19 buku aku membelinya baik di gramedia maupun kansius.

Dalam perjalanan pulan aku aku memuji kebesaran Tuhan yang melindungi aku hingga aku dengan selamat berjalan bersama-Nya pulan . sambil pulan di dunia hiruk pikuk aku tiba di kontrakan.

Aku pun memarkir motor di depan pintu masuk. Seperti biasanya sepatu menjaga pintu kamarku tidak ada, aku menduga bahwa tidak ada yang mengambil sehingga menghiraukannya. Aku membuka pintu kamarku dan semua barang yang ada di kamarku sahut menyahut menyambut kedatanganku walau mereka benda mati. Aku melihat laptopku tersenyum di meja untuk memegannya

Aku meletakan buku yang baru aku beli di rak buku dan aku hanya memilih untuk membaca filsafat kebudayaan. Aku pun terlena pada bab satu tentang hakekat kebudayan sehingga aku pun membaca halaman demi halaman sebab benakku menarilk. Sambil membaca buku tetapi sepatuku yang baru saja beri itu terus terinspirasi sehingga aku tinggalkan buku yang aku baca dan keluar melihat dan mencari sepatu yang baru empat hari aku beli dengan seharga 250.000,00.

Sabtu diJogja, gamping terlihat sepi, tak ada yang dicurigai akan mengalami dugaan. Pada akhirnya Tak ada dugaan itu muncul dengan pertanyaan dimana sepatuku, akhirnya tidak jadi kulia sial manusia pencuri. Manusia pencuri itu siapa yang tanpa meminta izin pemilik (aku) mengambil ini yang menjadi dasar. Mengapa manusia tidak melihat secara jernih Kebutuhan taman yang selalu mengantar aku ke kampus? Ataukah manusia yang tidak melihatkah bahwa aku hanya sepatu satu saja. Jika manusia pintar berlogika akan menganalisa secara jernih melihat pemilik sepatu ini sepatunya berapa? Atau jika saya mengambil sepatu itu bisa membuat pemilik sepatu ini bisa ke kampus atau tidak bisa pakai sepatu.

Syukur bagimu Tuhan manusia mengambil karena memujiku tetapi tidak meminta dan mengambilnya sehingga aku mengatakan pencuri. Pencuri itu manusia yang tidak sadar bahwa ini bukan berada di kampunku Intan Jaya tetapi mereka berada dalam kota kemerdekan Republik Indonesia. Ketidak sadaran ini menyeret dan meyesatkan manusia lain (aku) yang sepatunya satu saja.

Sesungunya kesadaran itu ada manusia tidak mungkin mengambil milik orang yang tetapi hal itu terus terjadi. Terjadi dengan peristiwa sepatu hilan, buku-buku dengan harga ratusan juta hilang saja begitu? Aku jadi bingun dan bertanya harus bagimanakan barang-barang akankan sementara aku membuka diriku untuk masuk ruangan untuk senda gurau bersama. Dari senda gurauku manusia bertangan panjang mengambilnya begitu saja tanpa meminta izin.

Sadarkan aku ya Tuhan dengan peristiwa demikian menjadi manusia yang sunguh sadar akan kepemilikan orang lain yang jangan saya ambil sebagai balasan terhadap perbuatan mereka terhadap aku. Berpikirlah sebelum bertindak, Rene Descartes mengatakan cogiito ergo sum “karena aku berpikir maka aku ada”. Perpikirlah selagi engkau bisa berpikir!; bahwa prilaku yang saya lakukan ini bisa menyesatkan atau tidak jika bisa menyesatkan tidak perlu dilakukan.

Semoga denga peristiwa dan pengalaman ini hilanngnya sepatu dan beberapa buku dengan harganya dengan ratusan sampai jutan rupih begitu saja hilang saja. Dengan peristiwa demikian aku menjadi heran. Heran karena kebolehan mereka tetapi aku yang baru saja berada di kota ini berusaha menjadikan perpustakan mini namun buku-buku hilan begitu saja satu persatu. Hilan itu juga tamuku yang mengambil tetapi dengan mengambil semoga kembalikan kepada pemilik tetapi hal itu tidak munkin terjadi ’ dasar Manusia pencuri.

jika terjadi pengakuan bahwa sepatu itu saya yang bawa, dan mengaku mengaku kepada aku berarti saya janji dengan sesunggunya!’ “ aku akan hormat yang mendalam atas pengakuanmu karena aku hanya membutukan kejujuranmu dan kejujuran itu aku akan membelikan sepatu yang modelnya sama kepadamu sebagai penghormatanku kepadamu atas kejujuranmu.” (janji aku).

Kejujuran adalah awal batu loncatan itu yang aku mau dan percaya kepadamu.
Oleh: Krismas Bagau
penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.

TIDAK ADA TRANSPARANSI ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN INTAN JAYA DENGAN MAHASISWA YOGYAKARTA ASAL KABUPATEN INTAN JAYA TENTANG ASRAMA PERMANEN SEGERAH TINDAKLANJUTI


Krismas Bagau
Jalan Bakung Nomor 397 Perumnas Condong Catur Yogyakarta, Tidak ada respon pemerintah kabupaten Intan Jaya terhadap pengadaan asrama permanen di conton catur hingga kini masih bermasalah sehingga masih terjadi cimpan siur pertanggungjawaban terhadap mashasiwa yang sudah dibelikan asrama permanen oleh pemerintah daerah demi mempermuda mengenyam pendidikan di kota yogyakarta menjadi semakin tidak nyata dengan dana anggaran sidang paripurna DPRD Kabupaten Intan Jaya dalam masa pemerintahan karateker bapak Bupati David Setiawan.
Dimana-mana membutuhkan tongkat estafet untuk membangun pradaban baru dari ketertinggalan untuk menaklukkan dari berbagai aspek politik, hukum, ekonomi, teknologi bahkan dari penindasan dan pengurasan daerah lain terhadap daerahnya sendiri supaya menjadi tuan di negerinya sendiri. Skiptisme terhadap asrama permanen di jogjakatra antara harapan dan kenyataan yang menjadi simpan siur. Sementara Tidak ada respon pemerintah kabupaten Intan Jaya terhadap pengadaan asrama permanen di conton catur hingga kini masih bermasalah.
Karena penanganan di bidang pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas dalam membangun SDM melalui Papua ternyata tinggal sebuah harapan yang tak kunjung direalisasikan dalam aplikasi secara maksimal sidang paripurna DPRD Kabupaten Intan Jaya dalam masa pemerintahan karateker sudah alokasikan namun sampai pada pemerintahan bapak Bupati David Setiawan sebagai karateker tidak jelas lagi. Ketidak jelasan ini team yang datang tanpa mengkordinasi seluruh mahasiswa untuk mempertimbangkan kelayakan pengadaan asarama sescara keseluruhan tetapi berhadapan dengan sebagaian atau beberapa mahasiswa yang tanpa memikirkan jarak antara tempat kulia disetujuhi akhirnya sekarang menjadi persoalan.
Untuk itu kapan pemerintah Kabupaten Intan Jaya dalam hal ini yang pernah melakukan pengadaan asrama harus mempertanggungjawabkan. Mengapa sampai saat ini tidak ada kejelasan pada hal mahasiswa pernah usut dengan tulisan di media masa untuk menintaklanjuti tetapi hal itu sampai kini tidak ada informasi yang jelas untuk mempertanggungjawabkannya.
Keraguanku mungkinkah pemerintah Intan Jaya tidak peduli dengan asrama permanen yang tidak layak dan tidak menguntungkan itu. Sebab pemerintah yang peduli kepada generasi penerus sebagai tongkat Estafet pasti saya mengusut ketika mendengar persoalan tentang asrama permanen jalan Bakung Nomor 397 Perumnas Condong Catur Yogyakarta itu. Sebab asrama Permanen adalah asset Pemerintah Daerah. Jalan Bakung Nomor 397 Perumnas Condong Catur Yogyakarta, seharusnya sebagai asset pemerintah kabupaten Intan Jaya merespon terhadap pengadaan asrama permanen di conton catur hingga kini masih bermasalah sehingga masih terjadi cimpan siur pertanggungjawaban terhadap mashasiwa yang sudah membeli asrama permanen oleh pemerintah daerah demi mempermuda mengenyam pendidikan di kota yogyakarta menjadi semakin tidak nyata dengan dana anggaran sidang paripurna DPRD Kabupaten Intan Jaya.
Beberapa criteria yang harus di penuhi sebagaimana asrama tidak ada kejelasan sampai kini. Sehingga kami yang mendiami di kota Jogjakarta dan sedang mengenyam pendidikan sebagai tuan rumah (asrama) sangat meragukan kehadiran Asrama permanen yang dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dengan pertimbagan proses perkulihan di setiap kampus yang berada dikota Jogjakarta tidak memenuhi syarat. Untuk itu pelajar dan mahasiswa menolak dengan pertimbangan menolak kehadiran asrama yang dibeli pemerintah intan jaya karena tidak memenuhi syarat sebagimana asrama, tidak bisa menampung semua mahasiswa karena retak asrama jahu dari kota studi, Tidak adanya sertifikat pembelian tanah, asrama dan jumlah pembayaran asrama yang tidak jelas.
Dari beberapa alasan diatas mendorong mahasiswa tetap mengugat karena asrama permanen itu penganggan yang terus sosialisasi kepada generasi penerus yang akan datang akan mengalami kesulitan dengan pertimbagan adanya gugatan karena semua sertifikat tidak ada oleh pihak hak ulayat dan tidak menutup kemunkinan Tidak sesuai dengan anggaran yang disidangkan oleh pemerintah Intan Jaya melalui DPRD Kabupaten Intan Jaya.
Untuk itu kepada pemerintah yang berhati dengan pendidikan rapatkan barisan demi kepentingan bersama pemerintah sebagai asset daerah sementara sebagai mahasiswa berpikir sesuai dengan membangun pradaban manusia melalui pendidikan yang sesuai dengan harapan kami untuk memperlancar seluruh kegiatan belajar di kampus yang sedang kami inginkan.
Dengan demikian semua menjadi persoalan dan keraguan di atas, sebagai putra dan putri daerah. diminta pemerintah Intan Jaya untuk segerah mentinjaklanjuti persoalan ini. Bila perlu asramanya dibangun yang baru yang sesuai dengan keinginan dan harapan mahasiswa demi memperlancar seluruh proses pengembangan perkulihan. Karena asrama permanen yang sekarang tidak menguntungkan mahasiswa untuk mengenyam pendidikan karena berkaitan dengan jarak antara tempat kulia dan asrama permanen di jalan Bakung Nomor 397 Perumnas Condong Catur Yogyakarta, tidak membantu generasi sebagai tongkat estafet masa depen generasi Intan jaya.
Oleh: Krismas Bagau
penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.

Minggu, 24 Maret 2013

zonggonau: MEMBUAT APLIKASI KALKULATOR DENGAN VB.net

zonggonau: MEMBUAT APLIKASI KALKULATOR DENGAN VB.net: Nama Komponen Properties Value Form1 Text Kalkulator TextBox1 Text Kosong ...

Sabtu, 23 Maret 2013

INTERNATIONAL INSTITUTE RESEARCH CULTURE SOCIETY AND NATURAL PROTECTION (IRCSNP): C. CIRI UMUM ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU MAYBRAT I...

INTERNATIONAL INSTITUTE RESEARCH CULTURE SOCIETY AND NATURAL PROTECTION (IRCSNP): C. CIRI UMUM ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU MAYBRAT I...: Konstruksi sof dan afi disangga oleh koloum sebagai pilar pilar Utama bangunan dalam arsitektur tradisional suku maybrat Imian sawiat ...

ZONGGONAU CRISTOOPHER: WAJAH WAJAH HACKER

ZONGGONAU CRISTOOPHER: WAJAH WAJAH HACKER: Postingan ini berisi gambar-gambar para hacker dunia. Wajah-wajah yang mungkin sering kita dengar namanya namun sangat jarang atau bahkan A...

Senin, 24 Desember 2012

NATAL RANTAUAN


Natal merupakan hari raya umat kristiani di seluru dunia, sebagai simbol kelahiran bayi sang jurus selamat  di kandang betlehem,  puncak natal  yang biasa di lakukan oleh umat kristiani pada  pada tanggal 25-desember di setiap tahun. Dalam pra Natal umat kristiani mempersiapkan diri  masing-masing, baik persiapan jasmania maupun rohani, persiapan jasmani, persiapan jasmani biasa  seperti  dekorasih natal seperti  pohon natal, kandang natal yang dihiasi dengan lilin, lampu, lonceng dll sebagi simbiol Kandang Betlehem  dan persiapan Rohanin seperti   mempersiap diri, menenangkan diri  untuk menerimah sang bayi jurus selamat di diri  kita  masing-masing . PraNatal merupakn persiapan yang sangat istimewa  dan menjadi kesan dalam hipun, kadang orang mau merayakan natal dengan  serab mewa, dan adang juga orang merayakan  natal dengan apa adanya sehingga ini  sangat terkesan dalam hidup. Dan yang paling inti dari pada Natal adalah mempersiapkan diri untuk menerima sang jurus selamat dan Perayaan natal  yang dirayakan dari  dirikita, keluarga, gereja , kampus,  organisasi dan lain-lain.
Natal perantauan, kidung natal terdengar di mana-mana,disetiap rumah yang dihiasih dengan dekorasih natal mulai namapak, ketika meliat orang-orang yang mau mareyakan perayaan natal ini sangat meria ketia bersama dengan keluarga atau  orang yang disayanginya.   ketika itu aku duduk dan merenungkan  sambil mendengar sebua lagu natal yang berjudul  Natal jau didusun (Carles Utagalu) secara tidak langsung  terbayang dan teringat pada saat merayakan natal bersama mama, papa, kaka, adik, sanak saudara  bahkan semua masyarakat di desahku, begitu indanya ketika aku merakan natal bersam dengan mereka .
 Di hari natal ini  aku ingin mengucapkan selamat  hari raya natal 25 desember dan menyongson tahun baru 1 januari 2013 kepada semua saudar/i seperjuangn yang merayakan natal di tanah rantaun,semoga dengan perayaan natal ini manjadikan diri kita yang kuat dalam menghapi  tantangan hidup yang keras ini.
By  Zoally pigu Inspirasi


Jumat, 23 November 2012

Refleksi terhadap potensi Alam yang ada di Kabupaten Intan Jaya



Latar Belakang
Fendy di sunggai wabu
Intan Jaya  merupakansalah satu Kabupaten baruyang di mekarkan dari kabupaten induk paniai dan mempunyaii potensi  sumber daya alam yang melimpah, baik itu sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non-hayati. Sumber daya mineral merupakan
salah satu jenis sumber daya non-hayati.
Sumber daya mineral tersebut antara lain : minyak bumi, emas,
batu bara, perak, timah, dan lain-lain. Sumber daya itu diambil dan
dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Sumber daya alam merupakan salah satu modal dasar dalam
pembangunan, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesarbesarnya
untuk kepentingan rakyat dengan memperhatikan kelestarian hidup
sekitar. Salah satu kegiatan dalam memanfaatkan sumber daya alam adalah
kegiatan penambangan bahan galian, tetapi kegiatan kegiatan
penambangan selain menimbulkan dampak positif juga dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan hidup terutama perusahaannya,
bentang alam, berubahnya estetika lingkungan, habitat flora dan fauna
menjadi rusak, penurunan kualitas tanah, penurunan kualitas air atau
penurunan permukaan air tanah, timbulnya debu dan kebisingan.
Sumber daya mineral yang berupa endapan bahan galian memiliki sifat
khusus dibandingkan dengan sumber daya lain yaitu biasanya disebut
wasting assets atau diusahakan ditambang, maka bahan galian tersebut
tidak akan “tumbuh” atau tidak dapat diperbaharui kembali. Dengan kata
lain industri pertambangan merupakan industri dasar tanpa daur, oleh karena
itu di dalam mengusahakan industri pertambangan akan selalu berhadapan.

Perumusan Masalah
Penambangan emas di Desa Bilogai (Bula Pigu) merupakan salah satu wilayah/sasaran
pertambangan emas penduduk  yang ada di Desa bilogai dan Umumnya Intan Jaya . Kegiatan
penambangan tersebut dilakukan oleh sekelompok tetentu (PT. GSBJ manifest)
Kerusakan tanah akan menjadi masalah yang sangat serius, karena
masyarakat yang semula memanfaatkan tanah untuk kegiatan pertanian atau
perkebunan tidak akan dapat lagi memanfaatkan tanah tersebut seperti sediakala.
Hal ini akan menyebabkan matinya sumber mata pencaharian masyarakat setempat
dan masyarakat juga akan merasakan dampak kerusakan tanah dalam jangka waktu
panjang, karena untuk memperbaiki kondisi tanah yang rusak dibutuhkan waktu
yang lama.
Dari rumusan permasalahan tersebut maka masyarakat yang berdomisili di daerah pengopersin/surpei yag di laukan pada tauhun1990-1995 setempat meminta pertanggung  jawaban disaat eksploitasi, maupun anak cucu (regenerasi)  intana jaya, mahasiswa/i dan seya sendiri dianataranya:
1.kesepakantan-kesepakatan dari pihak tersebut kepada beberapa pihak(indifidualisme) dengan hak ulayat.
2.perjanjian-perjanjian, jaminan yang di sepakatioleh beberapa orang (indifidualisme)
3.bertanggung jawab atas kerusakan tana adat dal lain lain yang tidak dicantumkan.


Refleksi
Pada saat itu saya masih ingat, ketika saya  masih kecil umur (5 Thn) ketiga fajar  tiba dari ufuk tibur para saudara-saudara saya yang ada di biloga dan umumnya  Sugapa dan sekarang disebut dengan Intan jaya berkemas-kemas untuk menuju tempat kerja/perusahan walaupun hujan,dingin, saikit dll... apa yang diharapkan dari keluarga yang ditinggalkan,keluarga pun berharap semoga ia selamat tetapi ketiga merka pulang dengan membawa sebuah bungkusan ditangannya, ternyata yang dibawah hanyalah sebuah bungusan makanan yang dikasih dari perusah , sunggu sangat menyedikan .Dan juga  hal hal yang di lakukan  oleh perusahan terhadapa masyarakat pribumi ialah dijadikan sebagai para buru kasar, buru kasar itupun adalah sanak saudara-saudara saya dan saudara saudara umumnya pada saat-saat itu mereka di kerjaan sebagai tukan koki, tukan kayu bakar, tukan buang sampa di sungai Wabu, dan lain-lain yang intinya buru kasar Merekapun dikerjakan dengan beberapa perjanjian-perjanjian yang di sepakati,  Dalam hal ini masyarakat pribumi di bohongi/ditipu oleh para pengontrol perusahan tersebut demi kepentingan, Hal ini sangat-sangat mengecewakan.

Dengan berbagai perbuatan (eksplorasi)  yang di lakukan dari  PT. GSBJ manifest  1991-1995
Ini menjadi inspirasih bagi kami anak-anak pribumi.
cukup......!!!  dengan tindakan yang dilaukan oleh perusaha PT.GSBJ terhadap orang-orang tua kami, dengan demikian penolakan yang akan dilakukan  oleh para regenerasi intan jaya  yang peduli akan alam intan jaya terhadap pengklaim sepiak.
 Beberapapa waktu lalau pasangan Bupati Natalis Tabuni,Ss,Msi dan Pdt. Yan Kobogayau,Sth,M Div mengklaim, mampu membangun dan menggali potensi alam yang ada di wilya intan jaya  (ujarnya)
Hal ini sangat lucu, sebab proses pelantikanpun belum dilakukan hal inikan  menjadi pertanyaan....??? besar bagi generasi Intan Jaya (berbagai persepsi akan muncul), ada apa di balik ini semuaa....dengan demikian kami generasih intan jaya meminta  kepada bapak Natalis Tabuni sebagai pimpinan daerah dan jajaranya jika mempunyai angan-ngan dalam menggali potensi alam yang ada di intan jaya, untuk itu yang paling utama adalah ciptakan kader-kader intan jaya dari berbagai disiplin ilmu, karena kami tidak mau di tipu lagi, sehingga orang asli pribu yang mempunya disiplim ilmu siap kerja di ladangnya sendiri demi kesejatraan sosial.

Salam atas terlantiknya Bapak Natalis  Tabuni, Ss, Msi dan Pdt,Yan Kobogayau, Sth, M Div sebagai Bupati Definitif dan Wakil bupati Amakanieee aitaooo

BY
Fendrik Zonggonau

Rabu, 21 November 2012

SEBELUM DILANTIK, BUPATI TERPILIH INTAN JAYA IJINKAN PERUSAHAAN BEROPERASI



Yeskel Belau
Sebelum dilantik, Bupati terpilih Kabupaten Intan Jaya Natalis Tabuni mengijinkan perusahaan Tambang emas beroperasi di Intan Jaya. Hal ini diduga sebagai penyelesaian masalah individual. Bukan pertama-tama sebagai upaya mendatangkan 
Natalis Tabuni & Yan Kobogau
pendapatan Daerah.

Ada apa ini? Ini sebuah pertanyaan sebesar tubuh manusia Intan Jaya. Dalam konteks ini kedudukan pertanyaan tersebut sama penting dengan tubuh manusia. Karena itu, pertanyaan ini harus dijawab. Untuk itu sebelum dijawab oleh Pemerintah Intan Jaya yang sebentar lagi dilantik, di sini kami mengemukakan pandangan kami terlebih dahulu. Pertanyaan “ada apa ini?” amat luas. Maka kami menyempitkannya dengan pertanyaan “ada hubungan apa antara perusahaan dan Bupati terpilih Natalis Tabuni, dalam pemilihan umum Darerah Intan Jaya?
Kami mengajukan pertanyaan tersebut dengan melihat reaksi Bupati terpilih yang begitu cepat mengijinkan perusahaan beroperasi di Intan Jaya sebelum dilantik sebagai Bupati Definitif, dengan alasan mendatangkan pendapatan Daerah. Bagi kami kebijakan ini amat lucu bahkan memalukan.
Kami menduga peristiwa itu terjadi adanya hubungan kerja sama antara perusahaan dan Bupati terpilih Natalis Tabuni. Bahwasannya bakal Bupati telah melakukan “PERJANJIAN” dengan Perusahaan dalam PEMILUKADA Intan Jaya Tahun 2012. Pastilah bahwa Bupati terpilih telah menjual JANJI untuk eksploitasi SDA Intan Jaya. Dan, perusahaan meluncurkan “DANA” dalam jumlah besar guna membeli JANJI yang ditawarkan. Jika benar demikian, maka proses PEMILUKADA Intan Jaya didominasi oleh kekuatan pihak perusahaan. Ada pun keyakinan bahwa tindakan Bupati terpilih ini “membuktikan” bahwa ia terpilih bukan karena dipilih dan diangkat oleh masyarakat Intan Jaya, tetapi berkat kekuatan perusahaan.
Perjanjian adalah sebuah kesepakatan antar dua belah pihak yang saling menyatakan kesediaannya untuk diwujudkan. Kami yakin perjanjian dari pihak perusahaan sudah dinyatakan dan kini kita hadapi perwujudan janji Bupati terpilih. Namun dari pihaknya jelas bahwa perusahaan diijinkan, itulah pemenuhan janjinya. Karena itu, kami melihat “PERJANJIAN” Bupati terpilih Natalis Tabuni bukan semata-mata untuk mengijinkan perusahaan masuk di Intan Jaya guna mengeksploitasi SDA. Tetapi juga merupakan PERJANJIAN untuk menjual tuan tanah, alam dan manusia Intan Jaya (Moni-Migani).
Keyakinan tersebut berdasar pada tiga alasan fundamental. Alasan Pertama: Belajar dari pengalaman. Sejauh ini kami melihat perusahaan mana pun tidak pernah bertanggung jawab secara konfrehensif terhadap kesejahteraan pemilik SDA dan alam sekitarnya. Ada banyak contoh yang bisa dilihat di Papua, Indonesia dan dunia. Tetapi tidak perluh jauh-jauh. Buka mata dan lihat kerusakan alam Intan Jaya akibat eksploitasi “PT Mine Cervice” yang pernah bermarkas di ujung barat Air port Intan Jaya. Pandanglah alam disekelilingnya. Tidakkah sampah non organik berserakan di alam yang alamih? Adakah pohon besar yang bisa diolah? Dapatkah sungai Wabu tetap terlihat tanpa lumut berbauh? Dapatkah perusahaan menggantikan gunung “Bula” yang sudah ompong?
Kemudian muluskah penyelesaian masalah? Dalam hal ini kami pernah mendengar bahwa penyelesaian masalah kerusakan alam itu sangat ambur-aduk dan tidak tuntas. Meskipun para tokoh masyarakat Moni-Migani berulang kali menuntut tanggung jawa moral dari perusahaan. Tetapi tuntutan itu tidak ditanggapi secara serius sampai detik ini. Jika demikian bukankah masyarakat dan alam menjadi korban?
Alasan kedua: Usia Kabupaten Intan Jaya masih “balita”. Sebagai Kabupaten balita mestinya berkembang secara alamih (proses). Berproses melewati tahap-tahap perkembangan menuju kedewasaan. Sehingga pada tahap dewasa ia tidak merindukan masa lalunya yang muncul akibat kurang menikmati masa mudanya. Kini, kami mengkawatirkannya. Sebab Kabupaten Intan Jaya terkesan melompat ke dunia kedewasaan. Padahal masyarakat Intan Jaya belum siap untuk menerima dan bersaing. Contoh; pada tahun 2010 kami melihat secara langsung perubahan ideologi masyarakat secara drastis. Di mana ideologi masyarakat tradisional produktif beralih menjadi masyarakat konsumeris dan materialis instan. Kami melihat kebanyakan masyarakat nongkrong saja di tempat-tempat umum. Seperti bandar udara, pasar, kantor Bupati dan di pingiran jalan (pengoperasian proyek jalan dan kayu). Masyarakat ini terlihat malas berkebun. Terlihat mentalitas untuk hidup dari hasil penjualan tanah, pohon dan sumber alam lainnya. Dan, hasilnya bukan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan primer. Tetapi untuk berjudi, bersenang-senang di kota, mabuk-mabukan dan transportasi ojek. Akibat dari perubahan ideologi ini amat terasa dengan fenomena global kelaparan di kabupaten Intan Jaya sampai dengan saat ini.
Alasan ketiga: Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) Intan Jaya. Pertanyaannya, Berapa banyak SDM lokal yang telah disiapkan untuk bekerja sebagai tenaga inti perusahaan? Supaya dengan mudah menjamin kontrolan keseimbangan antara eksploitasi – rehabilitasi alam dan eksploitasi – kesejahteraan hidup masyarakat pemilik SDA. Kami tahu realitas tingkat pendidikan masyarakat Intan Jaya untuk hidup berkecimpung dalam persaingan ekonomi dan disegala bidang pemerintahan. Itu amat minim. Apa lagi skill untuk bekerja secara profesional di perusahaaan yang diijinkan.
Pada hakekatnya kami tidak bermaksud menghalangi pembangunan. Tetapi kami menginginkan agar kebijakan pimpinan birokrasi terpilih itu jelas dan sesuai dengan tingkat kemapanan masyarakat untuk menerima, bersaing dan berkembang. Sehingga masyarakat, SDA dan alam di sekitarnya tidak menjadi korban.
Berkaitan dengan adanya ijin dari Bupati terpilih Intan Jaya untuk eksploitasi SDA itu terus akan kami pantau. Tetapi ternyata Perusahaan tetap diijinkan masuk beroperasi SDA dalam tahun-tahun yang dekat tanpa kordinasi dengan masyarakat Intan Jaya (termasuk mahasiswa), maka kami akan menilainya sebagai tindakan yang bersifat individual. Selain itu kami akan kordinasikan dengan perhimpunan mahasiswa dan masyarakat Intan Jaya yang berniat baik untuk melindungi alam dan peduli pada perkembangan mayarakat Intan Jaya, lalu bertindak. Karena bagi kami hal itu bukan untuk mendatangkan kontribusi positif dalam pembangunan daerah. Tetapi lebih bersifat pada penyelesaian masalah individual (ego).
Demi mewujudkan pembangunan Daerah secara konfrehensif, tuntas dan mendatangkan pendapatan Daerah serta menghindari kritikan akibat kebijakan yang kurang kontekstual, kami sarankan agar Pemerintah Intan Jaya terpilih segera komunikasikan hal itu dengan:
1. Pimpinan SKPD bidang yang hendak dikembangkan
2. Tokoh Dewan Adat
3. Tokoh Agama
4. Tokoh Pemuda
5. Tokoh perempuan dan
6. Mahasiswa

Kami menjamin keotentikan kebijakan yang dihasilkan Pemerintah, jika dikomunikasikan dengan enam komponen masyarakat tersebut. Sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat dijalankan secara mulus, tanpa menuai kritikan dan ketegangan di berbagai pihak. Dengan demikian pembangunan Daerah dan manusia berjalan dengan harmonis serta kesejahteraan semakin dirasakan oleh setiap komponen masyarakat Intan Jaya.

Oleh: Yeheskiel Belau
Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Jayapura Papua.