Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/07/cara-membuat-judul-blog-bergerak.html#ixzz2B8IAMJmX

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 Mei 2013

PERSETUJUHAN PEMEKARAN PROVINSI PAPUA TENGAH OLEH KABUPATEN PEMEKARAN



Pemekaran provinsi Papua Tengah, merupakan suatu wilayah astimintrasi negara. Pemekaran bertujuhan untuk mempermudah dan mengakses pembangunan dari berbagai aspek dan sector kehidupan manusia. Maka ada kerja keras dari elit politik untuk memekarkan provinsi Papua Tengah. Pemekaran itu telah di setujuhi oleh beberapa kabupaten, dan kabupaten yang mendukung adalah nota benenya kabupaten- kabupaten yang baru dimekarkan, misalnya Dogiayi, Deiyi, Intan Jaya dll. Maka kita sebagai kaum intelek mengkritisi, mengapa harus mereka yang mendukung ketimbang kabupaten yang lama.
Ada sebuah ilusterasi, sebelum penjelasan selanjutnya:
“ seorang laki-laki menika seorang gadis baru dari negri sebrang, ia mempunyai banyak tanggungjawab yang harus selesaikan setelah gadis itu masuk rumah. Yang pertama laki-laki menyelesaikan maskawi dari gadis itu, membuat rumah yang layak untuk hidup, membuat kebun,dll. Dan setelah selesai urusan sebagai kepala keluarga maka ia bisa merencanakan kegiatan yang lain”.
Cerita atau ilustrasi di atas mau mengatakan kepada kabupaten-kabupaten baru mekar yang ada membenahi duluh Rumah tangganya terlebih duluh (kabupatenya), baru memikirkan pembentukan pemekaran propinsi. Kalo belum beres maka pemekaran di tundah atau tidak usah, karena akan merusak kehidupan rumah tangganya.
Saya sebagai salah seorang kaum intelek tidak sependapat untuk pemekaran provinsi Papua Tengah karena setiap kabupaten yang ada di wilayah yang mau pemekarang masi belum maju dalam hal pembangunan fisik maupun manusia.
Secara singkat bereskan terlebih dahulu rumah tanggahnya masing-masing kabupatennya maka kemudian memikirkan rumah tanggah yang lebih besar lagi.

Migani ju dole…!!!!!
Oleh:Benyamin Magay
 Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Jayapura Papua.

Rabu, 08 Mei 2013

SURAT DISPENSASI SUDAH, SEDANG DAN TERUS TERSUSUN DI MEJA BELAJAR.



Seraya berkata dengan menyadari ketidak mampuan orangtua dengan berlatarbelakang petani, semua mahasiswa sebagai intelektual tertuju kepada nun Jahu sana dari negeri orang. Kami memandang ke dunia timur. Kami dasar bahwa demi pembentukan karakter berpikir kita kedepan untuk merubah alam dan manusia Intan Jaya dari arus perkembangan di era praneter pada dunia dewasa ini. Kami sunguh-sungguh sadar akan pentingnya pendidikan maka kami merancang ulang kembali program kerja dari sisi pendidikan. Dengan pendidikana mengarahkan kami putr-putri Intan Jaya berambisi untuk memandang jahu kedepan seraya menyadari tandangan dan tanggungjawab kami yang harus kami emban bagi anak cucu kami.

Untuk menaklukannya tidak ada pendorong sementara mata tertuju kepada dunia timur untuk datang mengangat kami dari perjuangan penderitan tetap sampai detik ini sulit terwujudkan. Kami sadar dengan kesadaran pendidikan pelajar dan mahasiswa Intan Jaya siap melakukan upaya yang intensif untuk merumuskan kembali pendidikan kami sehubungan dengan disiplin ilmu di setiap tingkat kampus yang berbeda tetapi kami ingin mau menyatukan perbedaan presepsi demi membangun Intan Jaya.

Kami sungguh menyadari bahwa kamilah tongkat estafet Intan Jaya yang akan nanti menjadi posisi pendambing program kerja Intan Jaya untuk pendidikan, kesadaran masyarakat, dan pelatihan tentang kebelanjutan (the Intan Jaya work program on education, public awareness and training for sustainability). Dengan analisa ini, betapa pentingnya pendidikan untuk itu, melalui refleksiku mengambil kesimpulan bahwa satu tujuan, satu harapan menuju intan jaya dari kota study menjadi buyar atau tidaknya tergantung dunia timur Intan Jaya mau meringankan keinginan dan harapan kami. Untuk mengimplemantasikan pendidikan akan berkarakter pemimpin sebagai pola perubahan secara fundamental dan hakiki pada orentasi radikalisme.

Kami sadar bahwa dengan pendidikan di kampus pun kami memahami dan mengerti tetapi disamping itu kami mau bahwa demi pembaruhhan membutuhkan uluran tangan pemerintah Intan Jaya. Pendidikan baru demi masa depan yang berkelanjutan memalaui pembaharuan kebijakan-kebijakan dan program-program pendidikan yang signifikan dan komfrensif demi pengembangan kami pelajar dan mmahasiswa untuk bergerak maju bukannya mudur terhadap ralitas yang terus berkembang dan maju ini sangat penting untuk di pahami dan di mengerti di masa depan pendidikan Intan Jaya.

Jadi harapan sebenarnya kapankah akan datang pemerintah Intan Jaya sementara surat dispensasi sudah, sedang dan akan terus tersusun rapi dimeja belajar.

 Oleh: Krismas Bagau penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.

PEMEKARAN KABUPATEN BUKAN MENJADIKAN ORANG MENJADI TUANG ATAS KABUPATENYA SENDIRI MELAINKAN MENJADI HAMBA DI KABUPATENYA.

Pemekaran merupakan suatu tujuhan yang mulia, karena dengan Pemekaran akan menghadirkan banyak hal (persoalan) yang menguntungkan maupun merugikan. Pemekaran akan sah kalo adanya kelengkapan astimintrasi yang akurat sesuai dengan fakta yang ada di daerah pemekaran (lapangan). Maka kita memperhatikan hal-hal yang menjadi dasar untuk membentuk pemekaran kabupaten misalnya penduduk, geografis wilayah, sumber daya alama serta hal yang paling inti, adalah bagimana kita menganalisis dan melihat kedepan setelah pemekaran kabupaten tersebut.
Bagi saya dampak pemekaran akan mengandung dua dampak yang besar yaitu dampak positif dan dampak negative.
Dampak positif, dengan pemekaran lebih mempermudah dalam mengakses pembangunan imprastruktur, mempermuda transportasi, perkembangan ekonomi dan juga bagimana untuk berpolitik dalam pemerintahan.
Dampak negatif, dengan pemekaran akan menghadirkan masalah-masalah sosial semakin pesat antar induvidu, kelompok, alam dan Tuhan sendiri. Dan juga membuat rakyat menjadi mental insane dan yang lebih para lagi kalo budaya atau kulturnya dibongkar bangkir. Dan masih banyak hal lagi tetapi secara garis besar demikian.
Maka kita mengambil keputusan pemekaran seharusnya mempertimbangkan dua dampak, baik positif maupun negative. Dan juga bisa membertimbangkan penghasilan SDM yang memadai untuk kedepan dalam menduduki kabupaten pemekaran tersebut.
Saya sebagai kaum intelek membandingkan bahwa belum banyak para sarjanh dan professor untuk mencukupi sebua kabupaten yang baru serta jumlah membandingkan penduduk yang ada. Misalnya pemekaran ini terjadi dan SDM kurang maka penduduk asli dari kabupaten terebut bukan menjadi tuan atas kabupatenya melainkan hamba di kabupatenya sendiri (di tanahnya sendiri).
Dengan demikian saya sebagai salah seorang mahasiswa Migani memberi tawaran solusi kepada para senior intelektual yang power untuk memekarkan kabupaten Kugapa terlebih dahulu memperhatikan SDM ketimbang pemekaranya. Karena dengan SDM yang mutu dan banyak, bisa mendirikan kabupaten atau pasti kita akan menguasai kabupaten induk misalnya Paniai, Dogiai, Intan Jaya, Nabire dan Deyai bahkan juga menguasai provinsi Papua.
Saya usulkan kepada kaum intelek mahasiswa/pelajar yang berasal dari weandoga dan sekitarnya, agar kita musti mempertimbngkan pemekaran kabupaten baru ini, karena kita adalah ekstapet masa depan daerah. Dan kita musti jelih melihat persoalan ini secara kritis dan mempertimbangkan dampak yang akan terjadi setelah pemekaran ini terjadi.
Wajib dibaca dan tanggapan kritis kita, dan kita musti sampaikan kepada para

Oleh:
Benyamin Magay
 Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Jayapura Papua.

Minggu, 28 April 2013

MANUSIA DAN AMBISI KURSI DPRD

Jika Disiplin Ilmu Tidak di Tegahkan maka Menciptakan
D5P. (Datang, Duduk, Diam, Dengar, Duit dan Pulang.


Terbayang di nun jahu di negeri orang ketika mendengar realitas hidup di alamku Intan Jaya yang akan menghapi pesta demokrasi kursi DPRD yang pertama sekali pemilihan yang umum, bebas, rahasia yang menentukan pemimpin Intan Jaya secara hati nurani. Isu hangat membakar semangat untuk merahinya pun sudah sedang dan akan terus dirancang. Ambisi untuk mencapi kursi DPRD Intan Jaya dari rumah-ke rumah pun isu hangat dibicarakan dalam rumah dan di luaar rumah. Dalam situasi itu pun manusia mulai berbicara ini dia orangnya dan itu bukan orangnya.

Diam membisu mendengar isu perkembangan politik tetang pemilihan DPRD Kabupaten Intan Jaya yang pertama sekali yang dapat memanas sehingga para pemimpin partai pun tidak berdiam diri dalam ruang tertentu, tetapi mulai mempersiapkan kadernya yang terbaik untuk siap berperang mengerut suara melalui partainya untuk itu mereka mulai menyusung anak panah untuk siapa yang maju dan siapa yang tidak maju pun tercium dan terdengar alam dan manusia. Visi dan misi pun sudah, sedang dan akan rancang untuk mengerut masa. Apa si yang mau di capai melalui DPRD? Benakku menyeret di arena sandiwara politik DPRD dengan berbagai pertanyaan demi pertanyaan nun jahu di negeri orang.

Dalam refleksi terlitnas argument demi argument dengan jawaban ketidakpastian asumsi yang tidak pada tempatnya untuk menemukan jawaban pasti. Banyak orang mempunyai ambisi menjadi DPRD. Dan boleh saja menjadi DPRD Tetapi yang menjadi persoalan adalah bisakah seorang masyarakat dengan pendidikan SD atau SMP bisa menyusun program kerja yang baik untuk keperpihakan kepada masyarakat. Jangan bermimpi menjadi seorang DPRD sementara argument tanpa tulisan tidak menghasilkan sesuatu atau menunjukan keperpihakan dalam visi dan misi yang menjadi orentasi dan runjukan dalam kinerja nanti setelah menjadi DPRD. dan lebih para lagi tidak bisa membuat sesuatu yang berguna. Atau mungkin DPRD temapatnya mendapat uang banyak, mobil banyak. Dan dengan uang bisa menyelesikan persoalan atau masalah yang berkembang dalam masyarakat.

Persoalan di atas itu hal biasa dan manusiawi tetapi yang lebih penting untuk menaklukan persoalan perkembangan membutuhkan manusia yang memang handal dan tahan uji dalam berbagai situasi yang sudah siap pakai dari sisi budaya, adat istiadat,dan perkembangan sesuai dengan disiplin pendidikan minimal D3. Hal demikianlah yang bisa mendeteksi perkembangan pembangunan manusia dan alam intan jaya secara keseluruhan dimensi kehidupan realitas hidup.

Analisa jangan sampai yang menjadi DPRD mengunakan dimensi strategis dari orang di luar Intan Jaya datang dapat menysitir orang dalam intan Jaya yang sama sekali tidak sama sekali tahu tentang adat dan budaya setempat, dari sisi lain juga DPRD mampu menaklukkan, dalam hal ini kapitalisme menyodorkan sejumlah uang dan terlena dan termakan akhirnya orentasi tidak jelas dan visi dan misi pun tidak jelas akhirnya uang pun di terima dan kapitalisme di persilahkan masuk hanya karena melihat uang. Untuk itu manusia yang dengan perpendidikan SMP tidak perluh diterima justru menghanculkan pembangunan dan manusia intan jaya nanti, walaupaun pola berpikir sudah matang tetapi untuk mengkonsepkan pembangunan amat sulit sehingga orang lain yang akan diperalatkan.

Saya lebih mendukung note yang dinaikan di facebook dengan argument saudara Paskalis Belau dengan mengatakan. Calon DPRD Kabupaten Intan Jaya tanpa orientasi ke depan yang jelas. Sejak jadwalkn pendaftaran bakal calon DPRD rekruitman bakal calon tanpa orientasi yangg jelas agar dan untuk memenuhi partai tanpa pengader partai. Intan jaya saat Ini banyak bakal calon yang maju rata-rata dari pendidikn SLTA. Sayangnya mereka maju orientasi mobil kaca gelap dan beristri lebih dari satu. sayang hal ini bertentangan dengan prosedur hukum. Sebenarnya fungsi DPRD adalah mengaspirasi keluhan masyarakat daalm keterlibatan pembangunan serta kawali kinerja pemerinta dalam pembangunan. dalam kenyataan orientasi materialism semata seperti: mobil kaca gelap dan prempuan, sementara program kerja tidak jelas maka perlu ada masukan dari berbagai kalangan. Apa yg di aspirasikn oleh DPRD sementara yang ada dan ada adalah aspirasi datang, duduk, dengar, duit lalu bar bir dan bor.

Memang tidak salah note saudara paskalis Belau yang di naikan note di atas. Pernyataan itu membangun kesadaran manusia yang berambisi kursi DPRD. Manusia dengan orentasi demikian akan menciptakan konflik holisontal dan vertical karena hanya tahu berbicara tetang keperpihakan kepada masyarakat tetapi berbicara tanpa konsep yang jelas sama saja mematikan pembangunan. Lebih parah lagi manusia yang mengandalkan masa untuk menduduki jabatan DPRD menyuarakan hak-hak masyarakat tetapi iya membalik telapak tangan dan melihat penderitan rakyatnya menjadi hal yang biasa-biasa. Justru mereka diangat untuk menyurakan hak-hak mereka tetapi itu tidak di lakukan tetapi hanya menciptakan mental korupsi karena memang mau buat apa dan mau lakukan apa yang tidak ada konsep ko yang jelas cecara tertulis.

Waspada, manusia model itu bisa juga menghanculkan pola perkembangan dan penyelamatan pembangunan manusia dan alam akan hancul. Untuk itu, manusia harus sadar bahwa pembangunan membutuhkan manusia yang bisa membagun dangan mengkonsepkan sesuatu yang menyelamatkan. Jika tanpa konsep sama saja manusia model itu yang menjadi biang keladi untuk datang, duduk, diam, dengar duit dan pulang tanpa fungsi kerja yang jelas.

Demi mengantisipasi hal demikian manusia harus mendeteksi dengan orentasi pembangunan bahwa manusia DPRD ini yang bisa dan kinerjanya yang jelas, criteria yang jelas demi keselamatan Kabupaten Intan Jaya. Jangan sampai sulit untuk dapat mengkonseptualisasikan dalam realitas hidup akhirnya korbannya adalah masyarakat jelata yang tidak tahu sama sekali dengan dunia perkembangan. Pada perkembangan di era praneter ini masyarakat berada pada tarap berpikir yang skeptis dengan perkembangan. Sebab perkembangan menjadi korban kekerasan terhadap mereka. Untuk melwan itu musti manusia yang mampu melawan arus perkembangan harus memilih manusia yang berpendidikan memadai untuk mampu menghadapi realitas yang terus berkembang di era praneter ini.

Persoalan yang dipersoalkan adalah Jangan sampai kita memilih manusia yang orentasinya tidak jelas visi dan misi tidak jelas dan hanya orentasinya Datang, Duduk, Dengar,diam, Duit, dan Pulang karena tidak ada konsep sama sekali. Konsep bukan secara lisan aspirasi sebagai seorang DPRD menyampaikannya untuk mempertanggungjawabkanya tetapi konsep yang di butuhkan adalah konsep yang secara tertulis. Konsep tertulis itulah yang dibutuhkan untuk menyampaikan untuk membangun kesadaran pradaban pembangunan baru dalam perkembangan ini.

Seandainya manusia memilih dalam pemilihannya yang tidak punya konsep dan orentasi berpikirnya uang, uang dan uang itulah yang akan mematikan pembangunan Kabupaten Intan Jaya sehingga hal yang lebih penting seorang DPRD adalah menyusung dan melaksanakan program peraturan pemerintah daerah. Dan manusia yang hanya ambisi saja dan tidak bisa membuat sesuatu untuk mengaspirasi hak masyarakat saya kira sama saja memaikan pembangunan. Pembangunan melaui konsep akan berhasil dari pada hanya berbicara saja secara lisan. Lisan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang bermanfat untuk keperpihakan kepada masyara sehingga akan memperalat aspirasi karena sulit mengkonsepkan. Demi mengantisipasi masalah seperti itu perlu adanya disiplin ilmu harus ditegahkan supaya masyarakat menjadi tuan di negerinya sendiri melalui perjuangan DPRD.

Dalih ambisi itu hal biasa tetapi namanya kursi DPRD adalah menyuarakan aspirasi masyarakat supaya masyarakat setempat menjadi tuan di negerinya sendiri maka sangat pelu sekali manusia yang fower vokal tetapi sulit mengkonsepkan sesuatu secara tertulis tidak perlu menjadi DPRD dan manusia yang vokal dan mampu mengkonsepkan itulah yang di pilih melalui pemilihan umum, bebas dan rahasia. Sehingga dapat mengatasi problematika persoalan secara jernih dan masuk akal yang dapat di pertanggungjawbkan demi kemajuan secara fundamental dan hakiki yang berdasarkan orentasi yang radikal.


Oleh: Krismas Bagau
penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.

Selasa, 16 April 2013

Zonggonau

Zongonau

Senin, 25 Maret 2013

DIMANA SEPATUKU, SIAL MANUSIA PENCURI. (MEMBANGGUNG KESADARAN) (Kaipaea abalo go, manajigipa higindemenege dea)


Mitalah maka akan diberi, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu tidak mungkin pelit jika ada kelebihan pasti akan diberikan kepadamu. Jangan mengambil dari kekurangan.

Sabtu diJogja, gamping terlihat sepi, tak ada yang di curigai akan mengalami dugaan terinspirasi. Di kamarku dihiasi foto-foto barenggan di makama konsitusi, lampu sorot belajarku menyalah menerangi ruanganku, buku-buku berhampuran, pakayanku berserakah seperti kapal pecah, pintu kamarku terbuka, minuman dan rokok kesukaanku menungu aku di atas meja belajar mendampingi laptop, sepatu baruku yang selalu menemani aku ke kampus tersenyum di samping motor tuaku tanpa sepata kata karena benda mati.

Aku pun terdiam melihat semuanya itu sebagai teman dalam sandiwara hidup. Aku sedikit melangkah kaki melihat tulisan bodohku yang tertempel di dinding ruanganku dengan motto “Hidup adalah Perjuangan Mencari Aku”. Sambil aku menikmati motto itu yang dijadikan puisi sedang aku baca di sudut ruangan itu!, tiba-tiba HPku berdring. Aku pun meninggalkan membaca puisi untuk menjawab panggilan. Aku pun melangkakan kaki mencari HPku berdering ingin mengetahui siapa sebenarnya yang menelepon Aku jam begini. Penyesalan membarengi keingintahun terganjar dan terinspirasi di benak aku , ternyata hp yang tadi bordering tidak dapat karena kamarku berserahkan. Dalam berserahkan itu terselib dalam buku-buku yang aku hampur dalam ruangan tidak telihat lagi sial Hp bodok dalam hati.

Aku kembali membaca Puisiku demi memaknainya tetapi hp bordering kembali, aku berusaha meninggalkan membaca dan mencari hp untuk merespon panggilan kembali. Ternyata hpku dapat di dalam noken angrek yang aku gantung di sudut ruangan. Aku pun mengambil secepat mungkin jangan sampai terlewat kebetulan pulsaku juga habis untuk telepon balik dan ternyata nomor hp yang baru. Pirasatku muncul, ini berkat atau bukan. Aku pun penset hpku tanda bahwa aku sedang menerima tlp dengan berkata: iya saya ada, selamat siang dengan siapa? Sahutnya selamat siang pak ini dengan dosen mata kulia pengantar politik. Aku pun gugup karena aku tidak kulia tadi pagi, benakku menyeret untuk mematikannya tetapi aku pun menjawabnya bagimana pak. Begini pak kris besok masuk kulia bahwa dengan No rekning dengan persyaratan beasiswa. Oh terima kasih pak saya akan membawanya besok pagi. Dan aku mengakhiri telepon sebab kebetulan tadi saya tidak kulia.

Jarum jam panjang menunjuk ke arah pukul enam dan jarum jam pendek menunjuk pukul tiga artinya sudah pukul 03.30 wib. Oh Tuhan sudah jam, aku hanya di kamarku saja sejak pagi hingga jam demikian sekarang aku harus kunjungi Gramedia dan Kansius. Aku memegang handuk yang aku gantung di pingir jendela dan memegang gayung yang aku simpang di sudut pintu keluar masuk ruanganku menuju kamar mandi untuk mandi. Aku melangkah ke kamar mandi dalam hitungan dua menit samapi tiga menit.

Setelah mandi aku pun melangkah ke kamarku memakai pakayan seadanya. Suyukur tidak suka menyeleksi pakayan sehingga pakayaku hanya empat pasang saja jadi aku kenakan dalam waktu detik. Setelah memakainya aku mengambil kunci motorku di tempat gantungan kunci di pintu dalam ruangan dengan helem. Aku melangkah kaki keluar pintu tempat aku menangkalkan sepatu dan memarkir motor dan langsung menyalakan motor tuaku sogun dengan DS AB 4034 HZ Menuju tokoh buku gramedia dan kanisius.

Dalam perjalanan sambil mengendarai doaku yang biasa-biasa terus rangkaikan Tuhan semoga selamat sampai tujuan. Sampil melintasi di jalan raya aku melihat manusia-manusia berbaju besi, berdasi emas bertopi baja menari-nari di atas diatas penderitan sesama. Aku pun merenung sesambil meririk kiri dan kanan sambil mengendari motor tuaku. Hidup ini menyedihkan dan menyenangkan sampai manusia tidak ada lagi melihat sisi baikkah sehingga terjadi demikian dalam hati sepintas lalu dalam perjalanan menuju tempat tujuanku

Di geramedia kota baru jogja, aku masuk melihat manusia –manusia menyibukkan dirinya sendiri. Tidak ada kata sahut menyahut namanya Tokoh Buku. Aku terseret beberapa buku terutama buku yang berjudur the best Chinese leadership wisdoms, halaman pertama aku dapat dan baca mencari keteladanan dari masa silam, dari kisah-kisah kepemimpinan china klasik, serta aplikasinya dalam dunia modern. Karena menari tanpa berpikir panjang aku membeli bersamannya dengan sepuluh buku lainnya dengan judul yang berbeda-beda.

Aku memegang dan melangkah kaki keluar pada pukul 05.00 wib menuju kansius dengan berjarak 2 kilo meter. Dalam perjalanan aku tidak berpikir lagi sesuatu yang akan terjadi di kontrakan aku terus melintasi jalan raya menuju kansius.
Di kansius buku yang aku cari aku dapat dengan berjudur filsafat ilmu,hermeneutika,pemikir politik barat, filsafat kebudayan dan empat buku lainnya yang judurnya saya lupa yang penting aku beli karena benakku meyeretku harus beli. Sykur bagimu Tuhan atas benak yang menyeretku untuk membelinya. Akhirnya 19 buku aku membelinya baik di gramedia maupun kansius.

Dalam perjalanan pulan aku aku memuji kebesaran Tuhan yang melindungi aku hingga aku dengan selamat berjalan bersama-Nya pulan . sambil pulan di dunia hiruk pikuk aku tiba di kontrakan.

Aku pun memarkir motor di depan pintu masuk. Seperti biasanya sepatu menjaga pintu kamarku tidak ada, aku menduga bahwa tidak ada yang mengambil sehingga menghiraukannya. Aku membuka pintu kamarku dan semua barang yang ada di kamarku sahut menyahut menyambut kedatanganku walau mereka benda mati. Aku melihat laptopku tersenyum di meja untuk memegannya

Aku meletakan buku yang baru aku beli di rak buku dan aku hanya memilih untuk membaca filsafat kebudayaan. Aku pun terlena pada bab satu tentang hakekat kebudayan sehingga aku pun membaca halaman demi halaman sebab benakku menarilk. Sambil membaca buku tetapi sepatuku yang baru saja beri itu terus terinspirasi sehingga aku tinggalkan buku yang aku baca dan keluar melihat dan mencari sepatu yang baru empat hari aku beli dengan seharga 250.000,00.

Sabtu diJogja, gamping terlihat sepi, tak ada yang dicurigai akan mengalami dugaan. Pada akhirnya Tak ada dugaan itu muncul dengan pertanyaan dimana sepatuku, akhirnya tidak jadi kulia sial manusia pencuri. Manusia pencuri itu siapa yang tanpa meminta izin pemilik (aku) mengambil ini yang menjadi dasar. Mengapa manusia tidak melihat secara jernih Kebutuhan taman yang selalu mengantar aku ke kampus? Ataukah manusia yang tidak melihatkah bahwa aku hanya sepatu satu saja. Jika manusia pintar berlogika akan menganalisa secara jernih melihat pemilik sepatu ini sepatunya berapa? Atau jika saya mengambil sepatu itu bisa membuat pemilik sepatu ini bisa ke kampus atau tidak bisa pakai sepatu.

Syukur bagimu Tuhan manusia mengambil karena memujiku tetapi tidak meminta dan mengambilnya sehingga aku mengatakan pencuri. Pencuri itu manusia yang tidak sadar bahwa ini bukan berada di kampunku Intan Jaya tetapi mereka berada dalam kota kemerdekan Republik Indonesia. Ketidak sadaran ini menyeret dan meyesatkan manusia lain (aku) yang sepatunya satu saja.

Sesungunya kesadaran itu ada manusia tidak mungkin mengambil milik orang yang tetapi hal itu terus terjadi. Terjadi dengan peristiwa sepatu hilan, buku-buku dengan harga ratusan juta hilang saja begitu? Aku jadi bingun dan bertanya harus bagimanakan barang-barang akankan sementara aku membuka diriku untuk masuk ruangan untuk senda gurau bersama. Dari senda gurauku manusia bertangan panjang mengambilnya begitu saja tanpa meminta izin.

Sadarkan aku ya Tuhan dengan peristiwa demikian menjadi manusia yang sunguh sadar akan kepemilikan orang lain yang jangan saya ambil sebagai balasan terhadap perbuatan mereka terhadap aku. Berpikirlah sebelum bertindak, Rene Descartes mengatakan cogiito ergo sum “karena aku berpikir maka aku ada”. Perpikirlah selagi engkau bisa berpikir!; bahwa prilaku yang saya lakukan ini bisa menyesatkan atau tidak jika bisa menyesatkan tidak perlu dilakukan.

Semoga denga peristiwa dan pengalaman ini hilanngnya sepatu dan beberapa buku dengan harganya dengan ratusan sampai jutan rupih begitu saja hilang saja. Dengan peristiwa demikian aku menjadi heran. Heran karena kebolehan mereka tetapi aku yang baru saja berada di kota ini berusaha menjadikan perpustakan mini namun buku-buku hilan begitu saja satu persatu. Hilan itu juga tamuku yang mengambil tetapi dengan mengambil semoga kembalikan kepada pemilik tetapi hal itu tidak munkin terjadi ’ dasar Manusia pencuri.

jika terjadi pengakuan bahwa sepatu itu saya yang bawa, dan mengaku mengaku kepada aku berarti saya janji dengan sesunggunya!’ “ aku akan hormat yang mendalam atas pengakuanmu karena aku hanya membutukan kejujuranmu dan kejujuran itu aku akan membelikan sepatu yang modelnya sama kepadamu sebagai penghormatanku kepadamu atas kejujuranmu.” (janji aku).

Kejujuran adalah awal batu loncatan itu yang aku mau dan percaya kepadamu.
Oleh: Krismas Bagau
penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.