Source: http://amronbadriza.blogspot.com/2012/07/cara-membuat-judul-blog-bergerak.html#ixzz2B8IAMJmX

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 24 Oktober 2012

PENTINGNYA BAHASA IBU (AMAKANIE MONI JU DOLE)





orang yang mengunakan bahasa ibunya dalam berkomunikasi sehari-hari adalah orang yang tahu menempatkan diri sesungguhnya. Dengan alasan bahwa orang itu menyadari bahwa dasar dan keberadaanya adalah orang yang berbudaya. Dalam hal ini sungguh di tegaskan untuk kita yang nota benenya orang papua dimana pun kita berada. Bahasa lain memang mendukung kita untuk berkomunikasi tetapi jagan kita mengesampingkan bahasa ibu kita. bahasa ibu adalah jati diri kita yang sesungguhnya.

Jangan perna minder atau berkecil hati, apabilah orang kiritik kita apabila kita mengunakan bahasa daerah kita. misalnya orang mengatakan kamu masi kuno mengunakan bahasa daera seperti ini, samacam itu, kamu atau kita jangan hirau atau respon. orang seperti itu orang yang tidak tahu identitas yang sesunggunya.

maka kita alangkah lebibaik kita mulai mengunakan bahasa ibu kita dalam kegiatan sehari-hari, tetapi juga kita kalo berkomunikasi dengan sesama kita dari luar suku maka kita sesuaikan dengan mereka . kalo mereka tahu bahasa indonesia keta mengunakan bahasa indonesi , orang inggris kita pun kalo bisa berbahsa inggris apalagi kita yang suku moni( MIGANI).
Oleh: Magai Benni

PEKERAN DEMI JABATAN


SADAR !!! SADAR !!!
PEMEKARAN KABUPATEN DI TANAH PAPUA HANYALAH SEBUAH ARENA YANG DI CIPTAKAN UNTUK MEMECAH-BELAH ORANG PAPUA DAN ORANG PAPUA HANYA DEMI "UANG" YANG BEREDAR DI TANAH PAPUA. JADI JANGAN KAGET KALAU ADA ORANG PAPUA YANG MEMPUNYAI SIFAT EGOIS/SERAKAH, HANYA MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI,SALING MENJATUHKAN,SALING MENJELEKKAN,SALING MENGHINA, IRI HATI, JADI KORUPTOR, PEMABUK, PECANDU SEKS BEBAS, SALING MEMBUNUH, TIDAK MAU BERDAMAI.
CONTOH-CONTOH DI ATAS INI ADALAH DAMPAK DARI SEBUAH PEMEKARAN DI TANAH PAPUA.
DENGAN UANG BANYAK YANG BEREDAR DI PAPUA MAKA ORANG PAPUA DIRANSANG DENGAN UANG YANG BANYAK UNTUK MENJADI SEPERTI ATAU BERPERILAKU SEPERTI CONTOH-CONTIH DI ATAS.
SEKARANG KITA SEDANG BERADA DALAM DUNIA KETIDAKSADARAN AKIBAT TERHIPNOTIS DENGAN BANYAKNYA UANG YANG BEREDAR DI PAPUA, OLEH KARENA ITU MULAI SEKARANG KITA HARUS SADAR DAN KELUAR DARI DUNIA KETIDAKSADARAN AGAR KITA JANGAN DI ADU DOMBA OLEH KARENA UANG.
SMG BERMAMFAAT.
THANKS. PAPUA FOR LIFE.
oleh: El Savador

SUARA TANGISAN DAN ALAM DAN WARGASATWA DARI BUMI INTAN JAYA UNTUK KITA SEMUA.


Add caption

            Seandainya pohon-pohon bisa memborntak dan bisa bicara tentunya ia bakal menjerit ketika d tebang.
Seandainya satwa liar itu, bisa berbicara tentunya bakal menyelamatkan hidupnya. Namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah dia saja melihat, dan mendengar jerita-jerita alam "JANAN KALIAN RUSAK AKU"
kalau manusia bersahabatan dengan alam,maka alam pun bersahabat dengan manusia/ kita. Mengapa manusia serahkah akan keduniawiaan?, dan aku ini selalu menjadi korban bagi para manusia?. Bagi orang yang mementingkan akan harta, tidak memikirkan masa depan, saya dan para manusia,
maka alampun akan marah pada manusia. Maka itu mari kita satukan barisan, untuk menelamatkan alam kita yang sedang menangis, di sana untuk memintah pertolongan kita. Karena orang yang kita tidak kenal datang dan merampas, merusak, dan mengincak-incak alam kita dan budaya kita yang ada di bumi intan jaya. biarpun jarak antara kita dan alam kita yang sedang menangis jauh, susa untuk jangkauan kita. Tetapi, untuk cara menyelamatkan alam kita yang sedang minta pertolongan kita, sedang menangis di sana di alam intan jaya,ada banyak jalan dan banyak pula cara. Sampai kapanpun kami pasukan komisi siap maju...maju...dan maju. untuk melawan bangsa raksasa yang sudah ada maupun yang akan datang, untuk menghancurkan alam dan manusia di bumi intan jaya..... AMAKANIEE....
oleh : Japugau Maxsimus

Ketidak layaknya mahasiswa/i Intan Jaya menempati Asrama



Mahasiswa Papua asal Kabupaten Intan Jaya di kota studi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai asrama permanen yang dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, Juni 2012 lalu tidak layak huni. “Mereka (Pemerintah Intan Jaya:red) membeli tanpa komunikasi dan koordinasi dengan Ikatan Mahasiswa Intan Jaya yang ada di Yogyakarta. Sampai saat ini, mahasiswa belum menempati asrama tersebut karena benar-benar tidak layak,” demikian ditulis dalam Release yang dikirim ke media ini, Minggu, (7/10).
“Asrama ini berada pada tempat yang sangat tidak strategis. Daerah itu sering terjadi konflik antara warga dan mahasiswa asal Papua. Selain itu, volume mahasiswa yang kuliah di lokasi asrama tersebut sangat kurang bahkan tidak ada. Semua mahasiswa benar-benar mendapat kesulitan karena keberadaan asrama tersebut sangat jauh dari kampus-kampus yang ada mahasiswa asal Intan Jaya,” tulisnya.

Selain alasan di atas, dinilai, asrama itu berada di daerah yang sangat berdekatan dengan asrama permanen mahasiswa Wamena, asrama permanen mahasiswa Puncak Jaya, asrama permanen mahasiswa Tolikara, asrama permanen mahasiswa Manokwari, asrama permanen mahasiswa Pegunungan Bintang, asrama permanen mahasiswa Timika, asrama permanen mahasiswa Yahukimo dan asrama kontrakan Mahasiswa Ndugama. Hal ini bisa membuat konsentrasi belajar terganggu dan bisa memicu konflik.

Mahasiswa juga menilai Pemda menipu. “Kami tahu, dalam anggaran yang disahkan bersama DPRD Intan Jaya, asrama itu 44 kamar ditambah satu unit bus. Namun, hal itu tidak terjadi. Asrama dibeli adalah rumah pribadi orang yang hanya 9 kamar tidur. Menurut pengakuan ketua RT, awalnya Pemda mengatakan rumah itu untuk kantor perwakilan, ternyata sekarang menjadikan asrama mahasiswa,”tulis Release yang dikirimkan Septinus Tipagau itu.

Ketua RT. 17 (lokasi asrama) sebagaimana dikutip dalam Release itu mengatakan, ia tidak tahu rumah yang dibeli Pemda Intan Jaya itu milik siapa. Kata dia, ia berada di RT sejak 1993 silam.

“Kami sebagai generasi penerus Kabupaten Intan Jaya sangat menyesal atas kejadian ini. Kami menegaskan kepada Penjabat Bupati dan Kabag Kesra untuk dalam waktu yang dekat segera ditinjau kembali pengadaan asrama ini. Apabila tidak berati kami akan melakukan tindakan lain terhadap rumah tersebut sehingga pemda akan menanggung kembali,”tulisnya.

 oleh: http://majalahselangkah.com/tak-layak-huni-mahasiswa-intan-jaya-diy-belum-tempati-asrama/

BUDAYA MIGANI MEMBUNUH SUMBER DAYA MANUSIA INTAN JAYA


  1. SUGAPA- Budaya merupakan kebiasaan dan kebiasaan itu menetukan suatu suku bangsa, ras,golongan,kelompok dan juga budaya menetukan cara hidup seseorang/pribadi. Budaya atau kebiasaan itu diberikan Cuma-Cuma oleh sang pencipta alam semesta beserta isinya kepada nenek moyang tiap-tiap suku bangsa, untuk di teruskan dari generasi ke generasi.

    Budaya migani di intan jaya sudah ada sejak nenek moyang migani, namun budaya yang kurang baik harus disesuaikan dengan perkembangan jaman modern. Masalah mas kawin perempuan dan masalah selingku sering terjadi perang marga dan perang suku di kabupaten intan jaya, sehingga menyebabkan korban jiwa dan luka-luka akibat anak panah.

    Mas kawin perempuan migani biasa dibayar dengan 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) sedangkan bayar kepala manusia biasanya 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah). Hal inilah yang membuat anak-anak migani kurang dalam sumber daya manusia. Jika dilihat orang migani memiliki kekayaan yang melimpah ruah, namun di sebabkan oleh faktor budaya, sehingga manusia migani kurang dalam sumber daya manusia.

    Pagi menjelang siang noken bersama beberapa pemuda hendak pergi ke kepala air sungai Dogabu untuk mencari tahu persoalan-persoalan yang terjadi di sana. Kami lalui beberapa bukit dan anakan sungai serta beberapa perkampungan. Ternyata banyak persoalan yang di hadapai masyarakat di kampung Sonabu dan Mbaituga.

    Hari itu rabu tanggal 29 Agustus 2012 pukul 12.35 kami tiba di kampung Magalogae dan noken hendak mencari tahu siapa tokoh perang tersebut. Pemuda setempat mengantar noken dan hendak ke rumahnya bapak Enos Nayagau. Noken bertemu dengan bapak Enos Nayagau dan saling sapa-menyapa. Bapak Enos menerima noken dengan senang hati untuk diwawancarai.

    Bapak Enos Nayagau sebagai pemilik perang atau dalam bahasa migani mengatakan Mbole Auu mengatakan bahwa; Tepatnya pada tahun 2003 seorang pemuda selingku dengan istri kepala suku, sehingga kepala suku yang bernama Begagelani Selegani meminta pihak pelaku untuk membayar denda, namun pihak pelaku membanta pernyataan tersebut, maka kepala suku Begagelani Selegani mengangkat busur dan menembak pihak pelaku, sehingga terjadilah perang marga yang dapat menewaskan Naigaukiba Nambagani dan Kepayabega Duwitau serta yang lainnya luka-luka.
    Kami sudah bayar kepala (Munggagi/Kigi Indo) dengan kulit bia yang bernama Jigigitagawabogotaga, kulit bia ini sama nilai dengan uang 150.000.000.000 (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah) ditamba kulit bia yang bernama Bodalibaga (RP. 8.000.000) delapan juta rupiah, tambah munggagiagibagapabaga (RP.6.000.000) Enam juta rupiah, tambah Tujimigi (RP.

    2.000.000) Dua juta rupiah, tambah Sagalawanibaga (RP. 8.000.000) tamba Degendogangaibaga (RP. 7.000.000) tamba Tomojimbubaga (RP. 15.000.000) tamba Kigi bagu serta babi 30 ekor.
    Kulit bia dan babi ini kami bayar marga Tigau dan Bagubau dan saat ini kami sedang mengumpulkan kulit bia dan uang untuk bayar kepala Kepayabega Duwitau.

    Kami sudah bayar kepala (Munggagi/Kigi Indo) Kepayabega Duwitau dengan kulit bia yang bernama Sugupakitatuji yang sama nilai dengan uang sebesar 400.000.000 (Empat Ratus Juta Rupiah) tambah kulit bia Anibela (RP.30.000.000) Tiga puluh juta rupiah, tamba Isasigabobaga (RP. 7.000.000) tamba Tujimigi (RP.2.000.000) tamba Engapawanibaga (RP. 3. 000.000) tamba Munikibuga Agibagapabaga (RP 1. 500.000) tambah babi 3 ekor yang sudah disiapkan, sedangkan yang belum disiapkan kami belum bisa untuk memberi keterangan, karena ini perang.

    Kulit bia dan babi ini kami akan bayar Marga Sondegau, Duwitau, Kum dan Maisini sedangkan untuk Emole Nambagai yang kena luka anak panah baru meninggal kemaring, kami sudah siapkan Jasigabokote yang sama dengan nilai uang lima ratus juta rupiah tamba uang empat puluh lima juta tamba kulit bia Iabumibeabumii (RP. 16.000.000) tamba mbulu-mbulu baga (RP. 5. 000.000) tamba Tujimigi (RP. 2. 000.000) tamba babi empat ekor.
    Selain itu kami kampung Sonabu dan Mbaituga sudah selesaikan beberapa persoalan perselingkuhan dengan uang, babi, ayam serta kelinci dan juga ada beberapa istri kami yang belum bayar mas kawin lalu meninggal dunia, sehingga kami akan hadapi dalam beberapa bulan kedepan. Persoalan-persoalan ini membuat anak-anak kami pulang dengan tangan kosong ke tempat kulia mereka di Jayapura, Makasar dan di Manado.

    Ini memang budaya suku migani di Intan Jaya yang diberikan Cuma-Cuma oleh Tuhan, namun budaya migani seharusnya disesuiakan dengan perkembangan jaman yang ada. Sekolah di Distrik sugapa sudah di bangun sejak tahun 1958, namun masih memiliki sumber daya manusia yang kurang kerena faktor budaya sangat memperhambat proses pendidikan. Sehingga harapan kami kedepan jangan lagi terjadi perselingkuhan, karena akibat perselingkuhan berjatuhan korban jiwa maupun harta, selain itu mas kawin juga harus di sesuiakan dengan situasi keberadaan seseorang, marga dan suku.
    Oleh: Maiseni Misael

Kamis, 10 Mei 2012

PENGAIRAN IYU PITA DUU


CERITA RANkYAT 

  
PENGAIRAN   IYU PITA DUU...
Dalam kamus beras bahasa Indonesia perairan adalah pekerjaan yang bertalian dengan penyediaan air untuk pertanian dengan bendung, terusan dsb.
 Jadi cerita   iyu pita du....adalah  Pada suatu hari musim kemarau yang sangat panjang sehingga  masyarakat di daerah sekitar Weandoga... mau menimbah air di Sunggai besar, yaitu Sungai Weabu.  pada umunya masyarakat di Pegununngan bercocok tanam disaat musim kemarau, jadi pada saat ini ada salah-sattu keluarga Zonggonau  mau membuka lahan kebun di perbukitan di lereng  Gunung Ulaipigu, sehingga Bapak Zonggonau ini mengatur rencan untuk paginya membuka lahan kebun.
Pada saat pagi hari yang sangat cera, si Bapak ini sambil mengasah kapak dan  parang ia  menyuru  kedua putranya untuk membantu ayahnya, sehingga  kedua anak ini pun mempersiapkan bekal makanan  untuk santapan makanan sesudah kerja. Sesudah persiapan bekal makanan si ayah menyuru  kedua anaknya untuk star menuju lokasih, sesampai dilokasih  mereka pun  melekan bahan bakanan yang di sipkan dan si ayah ini mengatur strategi  dalam pembutan lahan/kebun, dan menugaskan kedua anaknya untuk  membersikan/memotong seluk belum, pohon-pohon kecil, yang terdapat di sekitar lokasih itu,sedangkan tugas ayah dari kedua anak ini menebang pohon yang besar di sepanjang lereng gunung Ulaipugu. Waktu pun berjalan selama Proses penebangan itu  berlangsung, begitu panasnya teriknya  mata hari menyinari mereka , sehinga mereka pun merasah lelah dan  sang ayah dari kedua anak ini pun meyuru kedua anaknya  untuk beristrahat sambil makan siang, akirnya mereka kembali ke tempat bertedu dan kedua anak  ini mangambil bama yang disiapkan lalu si ayah bertanya mana air yang di bawah, kedua anak ini sambil menaru tangan di kepala dan berkata aitaa,,, (Bapak) kami lupa dengan kata seru.. hujima duu itamiee (cepat timbah air dan bawah)  Ayahnya menyuru salah satu di anatara kamu dua kembali  menimbah air di sunggai Weabu dibawah karena disekitar sini pun tidak ada mata air kecil dan lagian sekarang musim kemarau. Dengn lapang dada, si adik bungsu (memuguu) yang bungsu ini pun  berjalan untuk menimbah air minum walaupun jarak dari lokasih kebun ke Sungai Weabu kurang-lehih 10 Km, si bungsu ini kembali dengan membawah air minum dalam tabung minum, nama tabung ini dalam bahasa moni adalah uwih buni.. sesampai di loka penebangan si bingsu meneru air dan memanggil kakak dan ayahnya ternyata si kakak dan anyahnya juga sepakat untuk menebang salah tu pohon yang sangat besar dan keras  sambil menunggu  ia yang menimbah air lalu si bingsu ini sambil mendekati mereka berdua  dan berkata air sudah ada sehingga mari kami makan siang dan istrahat. Kemudaian sesudah menebang pohon yang sangat besar dan keras itu mereka bertiga kembali ke tempat istrahat /bertedu tadi lalu mereka mulai makam, makannan yang disiapkan.
 sesudah makan  mereka mau minum air jadi menyuru adik bungsu ini di mana air yang di bawah lalu si bingsu ini pun berdiri dan mau mengambil air yang yang disimpang, disaat ia mau mengambil  iya memandang ke uwi buni  itu tetapi uwi buni uda mering singa ia pikir bahwa pasti airnya uda tumpah karena posisinya miring  60 derajat,  ketika sampai di dekat dan ia memandang   tabung/uwi buni  itu   air dalam tabung pun tumpa dan tak ada hentinya sehingga menjadi mata air yang sangat jerni,  dengan terkejut si bungsu ini memanggil ayah dan kakaknya untuk menyaksikan hal takjub yang terjadi. Sehingga  si Bapak zonggonau dan kedua anak menamakan Iyu Pita Duu.. yang asrtinya Air Yang Di Tanam...
 Amakanieee .
By F Zoally Zonggonau